Ekspresi Sumber :http://ekosutris.blogspot.com/2013/05/kumpulan-gadget-unik-dan-lucu-untuk.html Copyright ekosutris.blogspot.com | Anda Buka 1 Wawasan Anda Baca | Batman Begins - Help Select

Pages

Subscribe:

Data Pengunjung

About Me

Followers

Rabu, 19 Februari 2014

Tampubolon



PENJELASAN POMPARAN SAPALATUA 
TAMPUKNABOLON (TAMPUBOLON) TENTANG SIRAJA PARMAHAN SILALAHI
SUATU UPAYA PELURUSAN TAROMBO”
Dalam rangka mendapatkan kebenaran yang sejati atas tarombo Raja Silahisabungan, Siraja Bungabunga Silalahi (Silalahi Raja Parmahan) telah berlangsung pertemuan antara Pomparan Sapala Tua Tampuk Bolon (Tampubolon) dengan Pomparan Silahi Raja (Silalahi)
Pertemuan tersebut dilakukan sabtu 13 November 2010, di Tolping, Kabupaten Samosir. Sekitar seratus orang menghadiri acara tersebut yang berlangsung dengan tertib, penuh kekeluargaan dan dinamis.
Selain Pomparan Silahi Raja yang ada di Tolping, juga hadir dari Balige, Riau, Jakarta dan Bandung. Disamping itu hadir anggi doli Pomparan Siraja Tambun, dan juga dari kalangan pihak boru.
Dari pihak Raja Tampubolon hadir sepuluh orang yang mewakili pomparan Tuan Sihubil, pomparan ni Raja Mata Ni Ari, Pomparan ni Raja Apul, dan Pomparanni Raja Siboro, dalam Rombongan Raja Tampubolon, terlihat hadir Drs Sahala Tampubolon mantan Bupati Toba Samosir pertama.
Kelihatannya acara tersebut sudah merupakan suatu kerinduan selama ini . hal ini ditandai dengan suasana sukacita yang penuh dengan senyum, diantara namar hahamaranggi pomparan Silahi Raja (Silalahi) dengan Raja Tampubolon.
“Horas di Pomparanni Ompunta” ujar rombongan Raja Tampubolon, begitu tiba menginjakkan kaki diarea tempat pertemuan. Bersalam-salaman yang hangat diantara yang hadir, menjadi awal pertemuan tersebut, dengan sambutan Horas yang menggema.
Acara dimulai dengan penyerahan “ Pogu ni sipanganon” dari pihak Silalahi kepada hahadoli Tampubolon. Dilanjutkan dengan makan siang bersama dan pembagian parjambaron sesuai tatanan adat budaya Batak.
Pertemuan tersebut merupakan yang ketiga, diantara keturunan Silahi Raja (Silalahi) meliputi Siraja Tolping, Bursok Raja, dan Siraja Bungabunga. Dan kedatangan Siraja Bungabunga dalam dua pertemuan sebelumnnya, mengandung banyak arti, karena sekaligus melakukan kunjungan Ziarah ke Tambak Raja Silahisabungan.
Dikatakannya, pertemuan ketiga itu menjadi mengandung banyak arti bagi keturunan Silahi Raja (Silalahi), berkat kedatangan haha doli Raja Tampubolon. Pertemuan yang sangat bermakna ini, harus ada tanda dan dimateraikan.

SELALU BERSATU
Setelah itu masing-masing perwakilan dari Siraja Tolping, Bursok Raja dan Siraja Bungabunga memberikan kata sambutan. Mereka semua menyatakan “Nunga jumpa na jinalahan, mulak tondi tu ruma”. Untuk itu berdasarkan pertemuan tersebut, pomparan Raja Silahisabungan supaya selalu bersatu sisada tortor, sisada tahi tu dolok tu toruan dalam setiap kegiatan.
Dari pihak Siraja Tolping menyatakan, pertemuan tersebut menjadi bernilai, karena sebelumnya telah dilakukan Ziarah ke Tambak Silahisabungan . diharapkan agar pertemuan tersebut bukan sampai disitu, harus diteruskan. Sehingga dapat ditemukan tanda atau wujud dari kegalauan hati, tentang pelurusan tarombo Raja Silahisabungan yakni keberadaan Siraja Bungabunga Silalahi.
Pihak Bursok Raja mengatakan sangat terharu dengan perjuangan Pomparan Siraja Bungabunga dalam menyatukan asal usul yang sebenarnya.
Mereka berharap Tuhan mendengar, Sahala ni ompu mendengar, agar tercapai yang di inginkan. Sehingga Tuhan menunjukkan kesatuan diantara pomparan Raja Silahisabungan.
Menurutnya , kehadiran Raja Tampubolon merupakan tanda dari sahala ni ompu, tanda dari Tuhan, sehingga terwujud kelak yang terbaik bagi keturunan Raja Silahisabungan. Sukacita dalam pertemuan itu akan menjadi tonggak kebaikan bagi keturunan Raja Silahisabungan, khususnya Silahi Raja (Silalahi).
Sedangkan dari pihak Siraja Bungabunga dalam sambutannya menyatakan, rasa terima kasih kepada Siraja Tolping dan Bursok Raja yang mempertemukan Silalahi dengan Tampubolon. Selama ini mereka selalu bertanya-tanya kenapa ditugu Paropo tidak ada tercantum Siraja Bungabunga.
Dia berharap agar Tuhan menunjukkan jalan bagi mereka, sehingga apa yang dicari selama ini dapat ditemukan demi lurusnya permasalahan tarombo tersebut.
Mereka dari tiga Ompu sudah sepakat agar haha doli Raja Tampubolon membuka hati dan menjelaskan keberadaan Siraja Bungabunga.
Perwakilan anggi doli Siraja Tambun menyatakan, agar Pomparan Silahi Raja (Silalahi) selalu bersatu. Dia berharap roh nenek moyang (sahala ni ompu) mendengar, sehingga seluruh keturunannya bersatu dimanapun berada.

DONGAN SAPADAN
Dari pihak Raja Tampubolon menyatakan, menyambut baik keinginan Siraja Bungabunga, agar dijelaskan bahwa mereka adalah satu dengan Siraja Tolping dan Bursok Raja. Sehingga jelas kedudukan dari saat ini hingga masa mendatang, jadi kalau ada pergumulan, selalu satu hati dan satu pendapat. “Tampakna do rantosna, rim ni tahi do gogona,” ujarnya mengungkapkan salah satu filosofi orang Batak.
Mereka menyatakan apa yang diungkapkan itu, berdasarkan apa yang mereka dengar dari nenek moyang secara turun-temurun. Biasanya setelah panen, ada kegiatan yang dilakukan nenek moyang masa dulu yakni “Patasimangot” seperti istilah Partangiangan saat ini. Hal tersebut bertujuan agar apa yang dipelihara dapat berkembang dan apa yang dikerjakan dapat berjalan baik.
Selanjutnya pada kesempatan ini seorang tua-tua Tampubolon memaparkan hal-hal sebagai berikut : suatu ketika setelah panen, berencana Sibagot ni Pohan bersama adiknya Sipaet Tua, Raja Silahisabungan dan Raja Oloan . Adiknya yang satu lagi Raja Hutalima tidak ikut serta, karena sudah tidak ketahuan rimbanya.
Sibagot ni Pohan menyuruh adiknya yang tiga orang untuk mencari tiang borotan dan sanggul borotan ke hutan. Sipaet tua berjalan kearah Timur, sedangkan Raja Silahisabungan dan Raja Oloan berjalan kearah Barat.
Setelah ditemukan yang dicari, ditetapkan waktu untuk melaksanakan “Patasimangot”. Anehnya mereka berencana akan tiba ditempat, kalau acara sudah berakhir. Karena sampai hari yang ditetapkan, dimana raja adat dan undangan sudah hadir , ketiga adinya belum tiba. Akhirnya Sibagot ni Pohan menyelenggarakan sendiri acara tersebut.
Setelah acara selesai, ketiga adiknya dating. Mereka rebut dengan argumentasi masing-masing, karena Sibagot ni Pohan menyelenggarakan sendiri acara tersebut. Akhirnya mereka berpisah, dan ketiga adinya meminta harta pembagian. Berangkatlah Sipaet Tua kearah Timur sedangkan Raja Silahisabungan dan Raja Oloan kearah Barat.
Ketika terjadi kemarau (haleon) di Balige raja, dimana semua tumbuhan mati, maka mereka meminta petunjuk kepada datu panuturi. Dimintakan bahwa Sibagot ni Pohan harus bertemu dengan ketiga adiknya. Hal ini mustahil dapat dilakukan, karena mereka sudah berpisah dengan perbedaan pendapat.
Akhirnya ditemuilah pomparan Silahi Raja (Silalahi) di Samosir untuk dating bersama-sama ke balige. Berangkatlah Siraja Tolping, Bursok Raja dan Siraja Bungabunga dengan menaiki perahu.
Dalam perjalanan ditengah laut Siraja Tolping dan Bursok Raja melompat dari perahu. Sehingga yang tinggal Siraja Bungabunga dan langsung di rangkul. Karena memang dia lebih kecil diantara ketiganya. Dibawalah siampudan ini untuk sebuah bukti. Setelah berada di suatu tempat, langit menghitam, hingga mereka tiba di Sonak Malela Balige.
Begitu banyak orang yang menantikan kedatagannya . diturunkanlah Siraja bungabunga dari perahu yang disambut dengan antusias banyak orang dengan ucapan oras…Horas…Horas….walau mereka sendiri di guyur hujan. Dibawalah Siraja Bungabunga ke kampong(huta) dan diberkati karena dia pembawa berkat. Berhentilah kemarau di Balige Raja.
Sampai tiba waktunya Siraja Bungabunga harus dikembalikan. Tetapi anak Sibagot ni Pohan keberatan. Karena awalnya mereka membawa tiga orang, sedangkan yang tinggal hanya satu orang. Mereka berikir bahwa Siraja Tolping dan Bursok Raja sudah meninggal di tonga tao.
Ketika itu Tuan Sihubil belum memiliki anak, padahal adiknya sudah memiliki cucu. Akhirnya Siraja Bungabunga diserahkan kepadanya untuk dijadikan menjadi anaknya . setelah Siraja Bungabunga diain menjadi anaknya, Tuan Sihubil ternyata menjadi memiliki anak. Diapun berkata “bah, nunga apala “tua” ahu hape tubu ma hape tampukni pusu-pusu urat ni ate-ate”, atas dasar inilah dibuat nama anaknya Apala Tua Tampuk Bolon.
Setelah Siraja Bungabunga dewasa dia dinikahkan ke boru Pasaribu yang merupakan maen Tuan Sihubil. Diapun membuka kampong (manjae) ditanah Silalahi yang ada di Hinalang.
Jadi datanglah Tuan Sihubil, dibawa anaknya Apala Tua Tampuk Bolon dan Siraja Bungabunga, sehingga dibuatkanlah Padan (kesepakatan) Ingkon sisada bulung di anak dohot boru, sisada odung-odung , sisada partinaonan. Imapadantu tu hamu. “Marpadan ma Tampubolon dohot Silalahi,” itulah perjalanan Siraja Bungabunga, hingga dia bisa sampai ke balige.
Maka atas dasar ini, kalau ada Tampubolon yang berpesta selalu diberi jambar kepada dongan sapadan Silalahi dan boru Silalahi. Hal ini tidak pernah tidak dipanggil, dalam setiap pelaksanaan pesta adapt Tampubolon.

HARUS DI JANGKON
Ada sebuah kisah yang terungkap dalam pertemuan tersebut, dulu ompu sumedang menaiki perahu ke Pangururan . Dalam perjalanan mereka berhadapan dengan si tolu butuha (angin kencang, hujan lebat,dan ombak besar) perahu bergoyang-goyang hampir menenggelamkan penumpangnya. Mereka menyatakan, “bah namboru nauli basa, paso hutur-huturmi, mardalan hami saonari,” angin, hujan dan ombak lantas langsung berhenti saat itu.
Titah(tona) nenek moyang Tampubolon kepada pomparannya, bahwa mereka harus mendahulukan boru Silalahi dari pada boru Tampubolon. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sisada boru. Sehingga membuat mengingatkan generasi penerus, agar mereka mengetahui tarombo yang sebenarnya antara Tuan Sihubil dengan Siraja Bungabunga Silalahi. Mereka berikrar akan mengingat padan dan berbuat yang terbaik khususnya sesama keturunan Silahi Raja (Silalahi) kepada Tampubolon.
Hal ini yang membuat Tampubolon ingat terus. Dan selalu lebih dekat kepada boru Silalahi dari pada boru Tampubolon. Karena sampai korban namborunya siboru Deang Namora Nauli Basa.
Diingatkan bahwa padan Tampubolon tidak hanya kepada Siraja Bungabunga, tetapi kepada seluruh marga Silalahi, karena padan ni anggina, nadohot do i padan ni hahana.
Pada akhir acara Marudin Silalahi menyampaikan, bahwa pengrusakan tarombo ini semakin nyata sejak terjadi tahun 1968. sekarang pomparan Siraja Bungabunga sudah kembali bertemu, maka Siraja Tolping dan Bursok Raja harus manjangkon(menerima). “jangan hanya bernyanyi Saimulak Sai mulak…tetapi tidak diterima,” Ujarnya.
Dikatakannya selama ini Siraja Bungabunga sudah pulang, tetapi selalu di halau ditengah jalan (terkesan dihilangkan) akhirnya harus dicari.
Dia juga terlihat semangat berbicara, seperti memiliki energi setelah menerima penjelasan dari Raja Tampubolon. Padahal usianya sudah mencapai 70 tahun. Hal ini timbul, karena dia melihat tidak ada perbedaan pendapat diantara mereka pomparan Silahi Raja (Silalahi) “diboto hamu do umbahen na semangat ahu, ai hamu do ahu, ahu do hamu,” katanya sambil bercanda.
Acarapun berakhir setelah ditutup dengan doa oleh haha doli Tampubolon.
Tiga cucu langsung Tuan Sihubil adalah Raja Mataniari, Raja ni Apul, serta Raja Siboro. Dewasa ini keturunannya menggunakan marga Tampubolon, Silaen, dan Baringbing, serta sebutan tambahan yang menyertai marga. Seperti halnya percabangan pohon, marga-marga itu seringkali masih mencirikan asal usulnya.
Belum diketahui sekitar tahun berapa masing-masing marga mulai digunakan. Akan tetapi secara umum dalam masyarakat Batak, pendirian marga adalah urusan besar yang sangat serius. Keinginan ini mengharuskan kesepakatan bersama, serta bermacam upacara rituil Batak kuno. Upacara-upacara itu dilarang pemerintah Hindia Belanda, serta sangat ditentang agama Kristen dan Islam yang dianut kemudian. Pada abad ke 20 tidak ada lagi marga baru yang muncul.
Tanpa bermaksud menghalangi kebebasan pribadi, Tarombo On-line menambahkan marga dibelakang nama para keturunan Tuan Sihubil. Semua marga dianggap mulai digunakan pada generasi 10 setelah Tuan Sihubil.
Tampubolon Baringbing (Barimbing)
Raja Mataniari memperoleh 4 anak lelaki dan 4 anak perempuan melalui istri pertama (boru Hinalang). Anak pertama: Ompu Rudang Nabolon tidak berketurunan. Boru ke empat: Siboru Ari juga tidak berkeluarga. 
  
Anak ke dua: Ompu Sidomdom bermukim di Siguppar (kecamatan Silaen sekarang), selanjutnya keturunannya menyebar ke Sipahutar dan Humbang. Anak ke tiga: Simangan Didalan bermukim di Onan Runggu (kecamatan Sipahutar sekarang). Anak ke empat: Ginjang Niporhas bermukim di Baligeraja (Balige). Keturunannya kemudian menyebar ke Meat, Tampahan, Lobutolong dan Lintongnihuta (kecamatan Sipahutar) sampai ke Hutabagot dan Lumbangaroga di kecamatan Pahae.
Keturunan ketiga ompu tersebut dikenal dengan sebutan Baringbing. Ini bermula dari tradisi menggunakan jengger ayam (baringbing) di tengah tanduk kerbau sebagai penghias di bagian depan atas rumah. Pada prakteknya sampai paruh pertama abad 20 penggunaan Tampubolon sebagai marga masih dominan, dengan Baringbing sebagai sebutan tambahan. Di kemudian hari, sebagian keturunan sudah menggunakan Baringbing (Barimbing) saja sebagai identitas marga di belakang nama seseorang. Dengan demikian dewasa ini ada keragaman penggunaan marga pada keturunan tiga ompu tersebut.
Silaen
Dari istri kedua (Boru Sitorus), Raja Mataniari mendapat 2 anak lelaki yaitu Soddiraja (anak ke 5) dan Badiaraja (anak ke 6). Keturunan Soddiraja di kemudian hari menggunakan marga Silaen. Badiaraja pergi merantau ke Lobu Simataniari dan masuk kedalam marga Sitompul. Ikrar dan perjanjian (parpadanan) ketika itulah yang mengikat Tampubolon dan Sitompul sebagai Dongan Saboltok yang dipersamakan sebagai saudara kandung.
3      4      (sundut). 
Raja Mataniari 
      Ompu Rudang Nabolon 
      Ompu Sidomdom         >> Tampubolon (Baringbing) 
      Simangan Didalan      >> Tampubolon (Baringbing) 
      Ginjang Niporhas      >> Tampubolon (Baringbing) 
      Soddiraja             >> Silaen 
      Badiaraja             >> masuk ke Sitompul 
      Alang Pardosi         >> Pohan (Barus) 
      Raja Unduk            >> Barus (Karo)
Pohan (Barus) serta Barus (Karo)
Menjelang usia lanjut, Raja Mataniari pindah ke Barus. Saat itu Barus sudah menjadi wilayah bisnis, dimotori para pedagang Tamil dan Arab yang datang atau menetap disana, sehingga banyak menarik perantau. Raja Mataniari menjadi orang berpengaruh, menguasai tanah-tanah di Tukka Dolok dan Tukka Holbung, serta mendapat gelar Raja Tungtungan. Di Barus, melalui istri ke tiga (Boru Borbor), lahir dua anak lelaki: Alang Pardosi (anak ke 7) dan Raja Unduk (anak ke 8). Raja Mataniari meninggal dunia dan dimakamkan di Barus.
Keturunan Alang Pardosi bergabung menggunakan marga Pohan Barus bersama keturunan kakek moyangnya (Sibagot ni Pohan) yang sudah lebih dahulu disana, dan yang tiba kemudian. Dengan demikian marga Pohan Barus tidak seluruhnya keturunan langsung Tuan Sihubil.
Raja Unduk pergi berkelana dari Barus ke tanah Karo dan mendirikan kampung Barus Jae. Keturunannya menggunakan marga Barus di tanah Karo, atau lebih dikenal dengan Karokaro Barus serta Karokaro Sitepu.
Tampubolon Sibolahotang, Sitappulak, Ulubalang Hobol, dan Sitadduk
Sebagian keturunan Raja ni Apul memakai marga Tampubolon disertai sebutan Sibolahotang atau Sitappulak, yaitu keturunan melalui Raja Marburak dan Pangahut.
3      4      5      6      (sundut). 
Raja Niapul 
      Tuan Sumandar. 
            Raja Sihajut 
                  Raja Marburak >> Tampubolon (Sibolahotang) 
                  Pangahut      >> Tampubolon (Sitappulak) 
            Ulubalang Hobol     >> Tampubolon (Ulubalang Hobol) 
                  Pamottang 
      Raja Sitadduk             >> Tampubolon (Sitadduk) 
            Partano 
            Ompu Surungan 
                  Ama Surungan
Sebutan Sibolahotang digunakan oleh keturunan Raja Marburak. Tidak diketahui tepatnya pada generasi ke berapa kebiasaan itu dimulai. Sebutan ini berkaitan dengan dusun Sibolahotang di dekat Balige sekarang, walaupun sebutan itu tidak sepenuhnya tepat. Dari empat cucu Raja Marburak, hanya tiga yang mendirikan pemukiman di dusun Sibolahotang. Cucu pertama (Lobuhole) bersama anak-anaknya tidak bermukim di Sibolahotang. Ompu Niogit bermukim dan menyebar dari Lumbanjulu (di kecamatan Sipahutar sekarang). Ompu Lattang bermukim dan menyebar dari Banjarbagot, Siguragura (kecamatan Habinsaran sekarang).
6      7      8      9      (sundut). 
Raja Marburak 
      Paduppas 
            Lobuhole. 
                  Arjang alias Ompu Niogit. Ds Lumbanjulu, kc Sipahutar 
                  Tajap alias Ompu Lattang. Banjarbagot, kc Habinsaran 
            Ompu Tumampak. Ds Sibolahotang, Balige 
                  Pangguccang. Ds Sibolahotang, Balige 
            Pandebubu. Ds Sibolahotang, Balige 
                  Ompu Raja Hobban. Ds Sibolahotang, Balige 
                  Pametar. Ds Sibolahotang, Balige 
                  Ompu Mukkana. Ds Sibolahotang, Balige 
            Parhaloho. Ds Sibolahotang, Balige 
                  Pamuha. Ds Sibolahotang, Balige
Sebutan Sitappulak digunakan oleh keturunan Ompu Pangahut. Sebutan ini berkaitan dengan dusun Sitappulak di Balige, walaupun bukan hanya mereka yang bermukim disana. Anak dan cucu Ulubalang Hobol (mulai dari Pamottang) juga bermukim dan selanjutnya menyebar dari Sitappulak.
Patut diingat bahwa tidak seluruh keturunan Raja ni Apul menggunakan sebutan Sibolahotang atau Sitappulak pada marga Tampubolon. Sebutan itu hanya digunakan oleh keturunan Raja Sihajut. Oppu Ijolo Tappukbolon mengusulkan sebutan Ulubalang Hobol serta sebutan Sitadduk untuk keturunan Raja Ni Apul yang lainnya. Untuk menghormati beliau, sebutan itu digunakan dalam Tarombo On-line.
Tampubolon Sibulele dan Lumbanatas
Sebutan Sibulele dan Lumbanatas berkaitan dengan Dusun Sibulele serta Dusun Lumbanatas di Balige sekarang. Keduanya digunakan oleh keturunan Raja Siboro.
3      4      (sundut). 
Raja Siboro. 
      Raja Martakhuluk          >> Tampubolon (Sibulele) 
      Saribu Raja               >> Tampubolon (Lumbanatas)
Walaupun bermula dari Sibulele, keturunan Raja Martakhuluk banyak membuka pemukiman-pemukiman lain di sekitar Balige. Sebagian diantaranya dikenal sebagai "par Tanggabatu", karena bermukim di Tanggabatu, terutama keturunan melalui Tuan Pamurta (generasi 8). Dalam Tarombo On-line mereka tetap disebut Tampubolon Sibulele.


0 komentar:

Posting Komentar